Jiwa Raga Merdeka #MerdekaBerbeda

Assalamualaikum Wr.Wb

Haloo teman-teman semua sudah lama saya tidak update blog, bukan karena saya tidak sempat untuk nulis sih, karena lagi jarang ikut aksi hehehe, oke saya mau berbagi pengalaman saya ikut aksi bareng Haheho Community, saya tahu komunitas tersebut sekitar bulan April 2018 karena senior saya di kantor baru saja ikut kelas inspirasi yang diadakan oleh komunitas tersebut, saya mulai mengikuti Instagram komunitas itu dan memerhatikan setiap postingannya.

haheho community
jiwa raga merdeka

Singkat cerita akhirnya ada aksi sosial dengan judul Jiwa Raga Merdeka atau bisa disingkat JWRA dengan hastag #MerdekaBerbeda, ketika melihat judulnya, yang saya pikirkan “paling lomba agustusan bareng anak-anak”. ternyata ketika saya membaca deskripsinya, ternyata kegiatan ini menghabiskan waktu dengan pasien ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), stigma negatif langsung muncul di benak saya, kalian pasti juga begitu, rasa takut jika mereka akan berperilaku kasar pasti terbayang, akhirnya aku mengurungkan niat untuk mendaftar.

Rasa penasaran masih melintas di benak saya, bermain dengan anak-anak pasti sudah biasa, berinteraksi dengan pasien ODGJ menurut saya sangat luar biasa, mungkin ini alasan komunitas HaHeHo mengusung tema #MerdekaBerbeda, dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya memutuskan untuk mendaftar.

Acara ini diadakan di Yayasan Galuh yang beralamat di  Jalan Bambu Kuning IX, Sepanjang Jaya, Rawalumbu, Sepanjang Jaya, Kota Bekasi, Jawa Barat 17114

Yayasan ini berdiri sejak 1984, merupakan inisiatif pendiri yang prihatin dengan kondisi ODGJ yang dibiarkan begitu saja ditelantarkan, padahal mereka hanyalah orang sakit yang butuh penanganan dengan baik, sempat mendapat penolakan dari warga karena tempat ini menampung “orang gila” yang menurut presepsi warga setempat hanya membawa masalah, sekarang Yayasan ini sudah bekerja sama dengan dinas kota Bekasi dan sudah banyak menerima pasien dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

 

12 Agustus 2018

Kami mengadakan technical meeting (TM) berlokasi di Yayasan Galuh, membahas terkait susunan acara, kami juga berkenalan dengan panitia dan pengurus yayasan. Pemilihan lokasi TM merupakan pertimbangan panitia agar kami para peserta mengenal lingkungan Yayasan Galuh sebelum hari H, selain itu kami juga mendapat sedikit pemamaran apa itu sakit ODGJ.

ODGJ merupakan sebuah penyakit, sama seperti penyakit pada umumnya butuh penanganan, perhatian khusus, juga dukungan dari lingkungann sekitar, banyak contoh kasus penderita ODGJ berhasil sembuh dan kini melanjutkan kehidupannya dengan normal.

Setelah mendengarkan paparan dari kakak panitia, kami mendengarkan paparan dari  Pak Ajat salah satu pengurus yayasan, yayasan ini menampung 435 pasien, yang terdiri dari 135 wanita dan 300 pria, menurut pak Ajat pria lebih rentan stress karena ketika ada masalah pria cenderung diam, kemudian menganggu pikirannya sendiri, tidak seperti wanita yang langsung meluapkannya dengan menangis, pak Ajat menjelaskan disini ada dua tipe pasien, yaitu pasien kooperatif dan non kooperatif. Pasien kooperatif memiliki emosi yang lebih stabil, sehingga diperbolehkan berkeliaran di sekitar yayasan sedangkan, yang non koperatif harus tinggal didalam barak besi yang telah disediakan, karena pasien yang belum kooperatif emosinya masih belum stabil, berpotensi menyakiti orang lain. Kami akan bermain dengan pasien-pasien yang sudah koperatif.

Setelah selesai mendengarkan paparan dari kakak panitia dan pengurus yayasan, kami semua diajak berkeliling untuk melihat kondisi sekitar yayasan, selesainya berkeliling kami semua bersiap untuk kembali ke rumah masing-masing.

Minggu 19 Agustus 2018

Matahari hari ini sangat cerah, pukul 8.30 saya sudah tiba dilokasi, tampak para pasien yang sedang menunggu di lapangan. Acara pertama, diawali dengan sambutan panitia dan dilanjutkan oleh sambutan pengurus yayasan, setelah sambutan selesai, aktivitas diawali dengan senam pagi, respon para pasien sangat beragam, ada yang bingung, ada yang senang, aja pula yang protes mengeluh karena mereka kepanasan.

Selesai senam, dilanjutkan dengan game estafet sarung, kakak-kakak berlomba bersama pasien untuk memindahkan sarung dari ujung kiri ke ujung kanan, tampak keceriaan di wajah kakak dan para pasien, namun banyak juga diantara mereka yang sedikit kebingungan.

haheho community
games sarung

Matahari sudah mulai tinggi, akhirnya kami menuju teras aula mencari tempat teduh untuk melanjutkan permainan, sudah tampak balon-balon yang akan digunakan untuk games joget balon, cara bermainnya satu kakak mengajak lima pasien untuk berjoget bersama, kami harus berjoget sesuai tempo dengan menjepit balon sampai waktu yang ditentukan, gelak tawa terdengar karena kehebohan dari masing-masing grup yang punya gerkannya masing-masing.

waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 WIB, pasien dan kakak-kakak bersiap untuk melaksanakan ISHOMA, para pasien mulai antri di tempat pembagian makan, pemandangan ini menurut saya cukup unik, mengingatkan saya  dengan siswa asrama yang sedang antri makanan.

setelelah selesai ISHOMA kami bersiap untuk games berikutnya, kali ini adalah cerdas cermat, mereka diberikan pertanyaan, siapa cepat dan benar akan mendapatkan point, pertanyaannya sederhana seperti ibu kota indonesia, presiden kedua, ketiga dan berbagai pertanyaan umum lainnya, siapa sangka mereka bisa menjawabnya dengan baik, aku merasa bersalah karena terlalu underestimate terhadap kemampuan mereka, harusnya aku tidak berpikir demikian.

komunitas haheho
cerdas cermat

Tiba di penghujung acara yaitu, heart to heart disini kami berbincang dengan para pasien, para pasien bercerita mengenai pengalamannya, atau hanya sekedar bernostalgia, dengan mendengarkan mereka, sudah cukup berarti untuk membantu pemulihan mereka.

komunitas haheho
heart to heart

Salah satu pasien bernama Bu Saidah, ia mengaku sudah lima tahun disini, dulu saat pertama kali tiba disini tangannya diikat karena suka menyakiti orang lain, kini sudah tidak ada ikatan di tangannya, karena sekarang bu Saidah punya emosi yang lebih stabil sehingga tidak menyakiti orang lain lagi, sekarang ia selalu membawa tas yang berisi pakaian dan perlengkapan lainnya, ia selalu berharap suatu hari keluarganya datang menjemput.

Sebagian besar pasien termasuk Bu Saidah mengaku selalu berhalusinasi dan mendengar suara bisikan untuk melakukan sesuatu, ini mungkin salah satu penyebab ODGJ bersikap nekat, sayangnya orang Indonesia selalu mengaitkan ini dengan hal mistis, akhirnya banyak orang yang menjauhi ODGJ, padahal kondisi ini merupakan hal wajar, ODGJ sering berhalusinasi, butuh penanganan dan pengobatan agar bisa sembuh, kini kondisi bu Saidah jauh lebih baik saat ini, kami bercanda dan tertawa bersama, Sebagian dari mereka mengaku senang, diajak bermain dan berkomunikasi,

Setelah selesai berbincang dengan para pasien, selesai pula susunan acara JWRA, #MeredekaBerbeda Kami semua berfoto bersama dan diakhiri dengan pembagian souvenir berupa rajutan yang dibuat oleh para pasien ODGJ.

Epilog

Bu Nina dan Pak Ajat, merupakan penjaga Yayasan Galuh, beliau berdua sudah mengabdikan diri lebih dari 10 tahun, mereka bercerita bahwa banyak sekali pasien yang diantar kerabat saudaranya, tapi hanya diawal-awal mereka perduli, lalu kemudian menghilang begitu saja, para pasien yang sembuh boleh keluar dari yayasan bila ada keluarga yang akan menerima mereka.

Disini rasa syukur kalian dipertanyakan, sudahkah anda bersyukur? atau jika kalian yang menderita sakit ODGJ apakah keluarga kalian akan tetap mendukung? saya sangat berterimakasih dan bersyukur diberi kesempatan untuk mengikuti acara ini.

komunitas haheho
foto bersama bu Nina dan Pak Ajat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s