LongdiSTANce

Kelas G Akuntansi PKN STAN

Assalamualaikum Wr.Wb

Hallo semuanya, kali ini aku ingin bercerita mengenai awal ku memilih STAN, tulisan ini dibuat dalam rangka menghitung mundur wisuda, tidak ada maksud tertentu untuk sok bijak, menggurui atau ingin pamer, hanya nostalgia belaka.

Suatu hari di tahun 2011

Tinggal hitungan hari aku lulus SMP, kami telah melaksanakan Ujian Nasional, sekarang adalah waktu kami menunggu nilai UN keluar dan dinyatakan lulus atau tidak. aku yakin akan lulus dengan mendapatkan nilai yang maksimal sesuai dengan kemampuanku. Kami mengisi liburan tidak hanya dengan bermain, tetapi mulai merencanakan kemana kami akan lanjut Sekolah Menengah atau sederajatnya. Pada umumnya, untuk lanjut ke sekolah menengah ada seleksi melalui tes dan ada yang melalui hasil nilai UN.

SMK atau SMA? mungkin ini sederhana bagi sebagian orang tapi sangat krusial bagiku, aku sangat menyukai pelajaran IPA dan Matematika, terbukti dengan nilai UN ku yang hampir sempurna dalam kedua mata pelajaran itu, aku yakin lanjut SMA lah yang terbaik bagiku, karena di SMA, dua mata pelajaran itu akan kupelajari secara mendalam.

Tetapi ada yang membuat ku mengubah keputusan ku untuk tidak memilih SMA, yaitu kakak ku. Kakak perempuanku bernama Oki Octaviani, dia adalah kakak yang sangat super untuk ku, sedikit percakapan ku dengan nya.

Kakak : ” Fer mau lanjut kemana abis ini?”

Aku : “Rencananya SMA 28 kak atau ga SMA 38”

kakak : “Fer jangan SMA deh, SMA mahal bayarannya, terus harus lanjut kuliah juga, SMK aja, abis lulus ferdi bisa kerja terus nabung buat kuliah”

Ferdi : “ferdi pantesnya SMK mana ka?”

Kakak : “SMK 8 aja fer dia bagus banget, kan ferdi suka matematika, ambil jurusan akuntansi aja itu matematika kok”

Ferdi : “Terus ferdi bisa kuliah?”

Kakak :”Bisa kok, atau ga ferdi ambil STAN aja, STAN gratis lho, terus biar nyambung juga, di SMK belajar akuntansi terus nanti kuliah di STAN ambil akuntansi juga”

itu adalah percakapan singkat awal ku mengenal STAN, aku sudah memikirkan bagaimana caranya aku kuliah dengan kondisi terbatas padahal aku baru lulus SMP, tak ada bayangan apapun tentang STAN, lulusanya jadi PNS lah atau apa, kakak ku hanya bilang gratis. Memang saat itu kondisi keluarga kami yang tidak terlalu baik, saat itu biaya pendidikan menengah atas TOP atau RSBI di Jakarta terbilang cukup mahal spp perbulan yang > Rp. 500,000 dan uang pangkal atau sering disebut uang gedung yang senilai 7jt-an. Nominal tersebut cukup besar pada tahun 2011.

Kenapa tidak memilih SMA biasa-biasa yang murah?

Entah kenapa tidak terpikirkan sama sekali di benaku, aku hanya mengikuti saran kakak ku saat itu.

Sedih saat aku tidak satu sekolah lagi dengan teman-teman SMP, aku mengikuti alur tes SMK 8 dengan sangat setengah hati karena tidak bersama dengan teman geng SMP ku,sebenarnya aku sangat kecewa karena aku diterima di SMK 8.

Masa Putih Abu-abu 2011-2014

Tahun pertama

Akuntansi itu matematika?? Prettt…. itu kesan pertamaku saat belajar, logika akuntansi sulit kupahami tidak seperti rumus matematika yang menurut ku lebih mudah dari akuntansi. Tahun pertama menjadi tahun yang sulit bagiku, selain sulit dalam belajar ada beberapa musibah-musibah yang kualami sehingga tahun awal SMK menjadi tahun terberat bagiku. Tahun pertama SMK aku masih terbayang akan kuliah, bahkan aku ingin mencari les tambahan gratis karena aku sangat kecewa karena materi yang diujikan untuk masuk ke perguruan tinggi adalah materi SMA. Jalur IPA atau IPS? Hanya ada dua, bahkan kedua mata pelajaran itu hanya aku jumpai sebentar di SMK, aku bertanya pada Bu Rita salah satu guru favorit ku di SMK, beliau bilang bahwa fokus SMK bukanlah seperti SMA yang mendalami mata pelajaran tersebut, belajar kulitnya saja oleh karena itu hanya sebentar.

Tahun Kedua

Aku lupa akan STAN, bahkan aku minder merasa tidak akan mencapainya, aku membaca berita bahwa kemungkinan diterima di STAN sangat kecil. Persentase diterima kurang dari 10% dari pendaftar. Akhirnya aku mengalihkan rencana ku ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN). PTN sama sulitnya dengan STAN, tetapi banyak pilihan kampusnya dan mungkin peluang aku diterima lebih besar.

Tahun Ketiga

Aku mulai mempersiapkan diriku untuk mengikuti UN, selain belajar UN aku memperispakan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi atau (SBMPTN). SBMPTN yang akan ku ikuti adalah jalur IPS. Setress, itu yang kurasakan saat belajar SBMPTN, materinya sulit sekali, bahkan aku tidak mengerti apapun soalnya, perlu diketahui, untuk belajar materi SBMPTN sangat sulit bagi kami anak SMK, kami harus belajar lima kalilipat, ekstra tenaga karena di SMK pelajaran yang di ujikan di SBMPTN tidak pernah kami lihat sama sekali. Tetapi aku tidak menyerah, entah kenapa meskipun orang bilang SMK dipersiapkan untuk kerja aku mengabaikannya, kebetulan banyak kakak kelas ku yang diterima di perguruan tinggi ternama di indonesia seperti UI, UIN, UNJ, UNAIR dan beasiswa Universitas Swasta. Melihat kakak kelas ku banyak berhasil membuat ku semakin bersemangat.

Semakin banyak belajar, semakin lupa.

itu yang ku rasakan saat belajar SBMPTN, tak ada satupun yang aku tangkap baik sosiologi, geografi, maupun sejarah. “menyerah” itu yang aku pilih untuk SBMPTN, kuputuskan untuk berhenti belajar karena aku merasa aku hanya membuang-buang waktu.

Malam hari sekitar pukul sembilan malam aku sedang asyik bermain hp, tiba-tiba ihsan teman sekelas ku, menyebarkan informasi mengenai STAN. Membaca kata “STAN” membuatku ingat akan memori lama ku saat aku lulus SMP dan kata-kata kakak ku dulu, sedikit dramatis sih seperti di film yang di rewind, Setelah berbagai pertimbangan aku memilih untuk berjuang mengikuti tes STAN, meskipun peluang STAN sangat kecil, setidaknya soalnya tidak sesulit SBMPTN.

Tidak ingin bergantung pada STAN yang belum ada kepastian, aku mencari alternatif lain mengikuti seleksi beasiswa seperti beasiswa di Politeknik Negeri Jakarta, Univ Trisakti, Beastudi Etos, STEI SEBI dan sebagainya, dari semua beasiswa yang aku ikuti, hanya satu yang berhasil lolos yaitu, Universitas Trisaksi. Alhamdullilah aku mendapatkan beasiswa full S1 Akuntansi lolos seleksi beasiswa membuat ku cukup lega. Setidaknya, setelah lulus aku punya tujuan.

Terus belajar, berdoa dan berusaha

Hal itu yang kulakukan ketika memperisapkan diri untuk USM STAN, meski aku mendapatkan beasiswa Trisakti aku belum puas, bukan karena Trisakti kurang bagus, siapa yang tak kenal Trisakti, univ itu sudah memiliki segudang prestasi, alumni yang hebat dan menyumbang peran yang signifikan pada tahun 98. Rasa takut yang membuatku tetap mengejar STAN adalah beasiswa trisakti membuat ku tertekan. Mahasiswa beasiswa Trisakti jika tidak memenuhi standar, maka beasiswa akan dicabut dan dikenakan biaya kuliah seperti biasa, jika kita ingin keluar kita dikenakan biaya pinalti. ketakutan ini yang aku pikirkan. Hal ini sebenarnya wajar, setiap beasiswa rata-rata seperti ini. aku yang pesimis dan tidak siap menerima resikonya. Biaya kuliah per semester S1 Akuntansi yang menembus 10 juta per semester yang mebuatku sangat takut dan membayangkan jika orang tua ku harus membayar semua itu.

Aku bukan pribadi yang pesimis, tapi hanya mengantisipasi

Sebuah pembenaraan yang aku buat sendiri, agar aku mantap mengikuti USM STAN. Singkat cerita setelah melalui episode drama panjang akhirnya aku dinyatakan lulus serangkaian tes STAN dan berhak menjadi mahasiswa tahun 2014. Alhamdulillah aku ditemani dua orang teman dari SMK 8 juga yaitu Moch Ihsan Nadia dan Anida Prawulansari yang turut membantu ku melewati serangkaian tes yang ada.

Bersama Anida dan Ihsan para alumni SMKN 8

Aku senang sekali, karena lulusan SMK 8 tahun 2014 menjadi lulusan terbanyak yang masuk perguruan tinggi, selain banyak ke perguran tinggi, banyak pula yang diterima kerja. Salah satu teman ku bernama Noviandri Saputra dia setelah lulus langsung diterima menjadi karyawan di bagian Internal Audit PT Paragon yang produknya yang sedang naik daun yaitu Wardah.

Menyesal masuk SMK?  Tidak tidak sama sekali, aku mendapatkan nilai nilai berharga di SMK dan pengalaman yang tidak tergantikan yang mungkin akan aku ceritakan dilain waktu.

Apapun jalan yang kamu pilih jalani dengan sepenuh hati, nikmati alurnya, sabar, setiap cerita pasti ada akhir dan akhir dari cerita merupakan awal dari cerita baru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s